Connect with us

Uncategorized

Mau Wisata Murah? Yuk Coba Konsep Live In ke Desa-Desa

Published

on

Kebanyakan orang hanya mengenal istilah “backpacking” atau “ranselan” kalau ngomongin soal wisata murah. Padahal ada satu konsep wisata dengan bujet terbatas bernama “live in”.

Memang, sejatinya live in bukanlah cara berwisata. Tapi di era ketika apa-apa bisa dijadikan duit seperti sekarang ini, live in telah menjelma menjadi salah satu pilihan untuk pelesiran.

Beberapa kampus di Indonesia memiliki program bagi mahasiswanya untuk menjalani live in di desa-desa. Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, misalnya, menawarkan mahasiswanya kesempatan berinteraksi dengan warga dari beragam latar belakang status dan budaya lewat live in.

Tujuan program live in dari kampus adalah meningkatkan kepekaan sosial dan daya tahan mental mahasiswa, juga membentuk karakter yang positif serta menjadi sarana bagi mereka untuk mempelajari keberagaman.

Live in pun menjadi alternatif kuliah kerja nyata (KKN). Sebagai program wisata murah, tujuan live in tidak jauh berbeda. Tapi ada yang lebih dijual, yakni pengalaman hidup di desa.

Karena itulah live in banyak menarik perhatian orang-orang kota. Warga kota tentunya menjadi pangsa pasar utama karena sehari-hari tak berinteraksi layaknya warga desa.

Apalagi warga yang sedari lahir tinggal di perkotaan. Tak pernah menghirup sejuknya udara desa serta merasai keramahan warga desa.

Siapa yang hingga saat ini belum pernah mempraktikan gotong royong hayo, ngaku. Saat live in, kamu pasti bisa menikmati indahnya kerja sama antarmanusia itu.

Kenapa Live In Murah?

wisata-murah
Udah pemandangan indah, bujet liburannya pun murah lagi (pexels)

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa program wisata live in bisa murah? Dan tentu saja apakah sudah ada agen wisata yang menawarkannya?

Live in bisa menjadi alternatif sarana liburan murah karena konsepnya mirip dengan backpacking. Tak ada hotel bintang lima, tak ada akomodasi kelas atas.

Semuanya serba sederhana dan terbatas. Namanya juga tinggal di desa.

Dengan berwisata pakai konsep live in, kita tak perlu bayar akomodasi yang wah. Makanan dan minuman yang disajikan adalah yang khas desa tersebut.

Turis live in bakal menginap di rumah penduduk desa, makan bareng mereka, beraktivitas sehari-hari dengan warga lokal. Termasuk bercocok tanam, ikut rapat, dan memperbaiki jalan desa jika sedang ada perbaikan.

Semuanya itu dilakukan dengan bantuan penduduk desa live in. Tentunya bakal repot kalau kita tahu-tahu datang tanpa rencana untuk wisata live in.

wisata-murah
Live in bisa dilakukan dengan bantuan agen wisata, tak perlu ngebolang sendiri (pexels)

Bagusnya, saat ini sudah ada agen wisata yang memiliki paket live in. Desa yang disodorkan, antara lain berada di Yogyakarta hingga Bogor.

Umumnya, desa-desa tersebut sudah dikonsep sebagai desa wisata. Artinya, warga di sana sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan. Dengan begitu, proses adaptasi para pelancong bisa lebih gampang.

Namun bukan berarti para turis akan diperlakukan bak raja atau ratu. Mereka bakal diminta melakukan hal yang persis sama dengan para penduduk. Tak ada keistimewaan, tapi tetap ada uluran tangan untuk membantu memahami tradisi setempat.

Kelebihan Live In

wisata-murah
Salah satu kelebihan live in? Udah pasti lebih bersahabat buat kantong! (pexels)

Kelebihan live in yang paling utama jelas biayanya lebih murah. Namun yang lebih berfaedah adalah pengalaman hidup membaur di desa yang mungkin tak akan terulang lagi.

Bagi penduduk kota, inilah kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berharga itu. Pengalaman hidup di desa diharapkan bisa membuat orang kota lebih menghargai warga desa.

Kata “ndeso” yang berkonotasi negatif pun bisa diputar 180 derajat ketika bersentuhan langsung dengan mereka. Bisa jadi orang kotalah yang sebenarnya ndeso karena tak mau antre, tak mau bersosialisasi dengan tetangga, tak mau berempati, dan seterusnya.

Hal ini jugalah yang membuat program live in dimasukkan ke kurikulum pendidikan. Bahkan tak hanya di lingkungan kampus, live in menjadi kegiatan wajib di beberapa sekolah menengah atas.

Buat kita-kita yang mengaku warga kota, live in bisa menjadi pilihan untuk berwisata dengan hemat sekaligus menimba pengalaman. Coba hubungi agen wisata terdekat untuk mencari tahu apakah ada paket wisata live in.

Pasti terjangkau kok dibanding paket-paket reguler. Tak perlu nabung terlalu lama atau bahkan cari utang buat liburan. Liburan itu untuk untuk senang-senang, bukan mikirin gimana caranya bayar utang. Yuk wisata murah!

Continue Reading

Uncategorized

Liburan Mewah di Atas Kapal Pinisi ala Maia, Luna Maya Hingga Nikita Willy, Seru Abis!

Published

on

Kapal pinisi terkenal sebagai kapal legendaris Indonesia yang proses pembuatannya tanpa menggunakan paku maupun peralatan modern. Menikmati paket liburan di atas kapal pinisi kini menjadi salah satu bagian gaya hidup masyarakat urban, termasuk para artis.

Tak hanya berlayar saja, perahu keren ini menyuguhkan satu paket liburan sensasi bermalam. Dengan penataan desain interior kabin yang mewah seperti hotel bintang lima, dijamin akan membuat betah siapa saja yang ada dalam kapal satu ini.

Perahu berlayar dari Pelabuhan Bajo sampai nanti berakhir di pelabuhan yang sama, hingga dari beberapa pelabuhan lainnya di Indonesia.

Kamu juga bisa dapat menghabiskan waktu dengan cara lainnya seperti berjemur, diving, snorkeling, main jet ski, hingga bercengkerama dengan penduduk lokal di sekitar pulau yang dikunjungi.

Keahlian pembuatan kapal pinisi dimiliki oleh suku Bugis Makassar dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya selama ratusan tahun.

Kapal ini juga terkenal dengan ketangguhannya. Konon, sekitar abad 14 lampau, kapal Pinisi sudah digunakan untuk menjelajah samudera di seluruh dunia.

Gak hanya mencerminkan hebatnya budaya Indonesia, kapal ini juga menggambarkan arti sebuah ketangguhan.

Karena itu, tak heran jika kini banyak masyarakat mulai dari kalangan umum hingga artis menikmati keindahan perairan kepulauan Indonesia di atas kapal satu ini. Salah satunya, Maia Estianty dan suaminya, Irwan Mussry.

Selain pasangan selebriti romantis itu, ada beberapa jajaran artis lain yang juga pernah berlayar di atas kapal pinisi. Siapa saja? Yuk, simak rangkumannya di sini:

Maia Estianty dan Irwan Mussry

Kapal pinisi
Kapal pinisi (Instagram/@maiaestiantyreal)

Hanya berduaan, Maia Estianty dan Irwan Mussry menikmati keindahan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur dengan menaiki kapal pinisi.

Lewat unggahan di Instagramnya, Maia dan salah satu konglomerat Tanah Air itu tampak menikmati bermandi cahaya matahari dalam perjalanan mereka. Keduanya pun beberapa kali tampak mengabadikan diri saat menikmati perjalanan di atas kapal.   

Baca juga: Berlayar Mewah ke Pantai Pasir Perawan dengan Kapal Pinisi, Mulai Rp 1 Juta Aja!

BCL dan Ashraf Sinclair

Kapal pinisi
Kapal pinisi (Instagram/@bclsinclair)

Bersama sang suami, Ashraf Sinclair serta anak mereka, Bunga Citra Lestari (BCL) termasuk keluarga selebriti Indonesia yang menikmati liburan di atas kapal pinisi.

Menikmati liburan keluarga yang berkelas, BCL mengajak keluarga kecilnya itu menikmati Labuan Bajo dengan naik kapal satu ini.

Dalam unggahan di Instagramnya, pelantun “Sunny” itu tampak menikmati momen snorkeling, memasak, pergi ke pulau rahasia, sampai karokean bareng di atas kapal.

Nikita Willy dan Indra Priawan

Kapal pinisi
Kapal pinisi (Instagram/@indpriw)

Nikita Willy dan Indra Priawan Djokosoetono dikenal sebagai pasangan selebriti yang gemar traveling baik di dalam maupun luar negeri.

Selain berlibur mengunakan kapal pesiar, Nikita dan sang kekasih kerap membagikan foto saat berlibur naik kapal pinisi.

Adinda Bakrie

Kapal pinisi
Kapal pinisi (Instagram/@adindabakrie)

Adinda Bakrie termasuk selebriti yang menikmati liburan mewah di atas kapal pinisi. Bersama sang kekasih, Vinny Di Lucia, instruktur jiu jitsu di Los Angeles, Amerika Serikat, Adinda tampak berlayar di atas kapal ke Pulau Komodo, Nusa Tenggara.

Saat itu, seperti pasangan raja dan ratu bajak laut, sosialita sepupu Ardi Bakrie itu tampak menikmati setiap momen berwisata air di atas kapal satu ini.

Luna Maya

Kapal pinisi
Kapal pinisi (Instagram/@lunamaya)

Luna Maya ketika masih menjadi kekasih Reino Barack diketahui pernah berlibur menggunakan kapal pinisi.

Selama berlibur di sana, Luna diketahui menggunakan kapal Plataran Pinisi Felicia yang merupakan perahu besar. Perahu ini dapat menampung 12 tamu yang terbagi dalam dua master cabin dan empat twins cabin.

Itulah lima selebriti Tanah Air yang diketahui liburan mewah di atas kapal pinisi. Tertarik mengikuti gaya mereka?

Continue Reading

Uncategorized

Melihat Potensi Wisata Rowo Bayu, Desa yang Dikaitkan Horor Desa Penari

Published

on

Cerita horor KKN Desa Penari hingga kini masih viral di media sosial. Cerita tersebut mengisahkan tentang pengalaman kuliah kerja nyata enam orang mahasiswa di sebuah daerah yang angker. 

Cerita yang diunggah oleh akun Twitter @SimpleM81378523 itu diakui berdasarkan dari kisah nyata. Artinya segalanya hal-hal mistis yang dituliskan berdasarkan pengalaman seseorang yang sesungguhnya, meskipun sedikit dimodifikasi lewat sebuah percakapan.

Saking ramainya, netizen, bahkan media-media mainstream di Indonesia penasaran sama lokasi desa ini sesungguhnya. Mereka mencari-cari tahu sesuai petunjuk yang dituliskan. Seperti misalnya desa ini terletak di tengah hutan, lokasinya di timur Jawa, hutannya terkenal angker, dan lain-lain. 

Sampai akhirnya mengerucut ke satu desa yang diduga sebagai lokasinya, yaitu Desa Rowo Bayu di Banyuwangi. Padahal desa ini termasuk ke dalam desa wisata yang cukup tersohor saat ini. 

Desa Rowo Bayu dinilai memiliki kesamaan letak geografis dan karakteristik desa sama seperti di dalam cerita. Meskipun, pemilik akun @SimpleM881378523 itu sama sekali enggak mengonfirmasi di mana letak desa itu pastinya. 

Buat yang penasaran, seperti apa sih Desa Rowo Bayu yang sering dikait-kaitkan dengan desa penari itu? Berikuti ini ulasan potensi wisatanya. 

1. Ada telaga yang dikelilingi pohon-pohon tinggi 

Desa Penari
Telaga di Rowo Bayu (Instagram).

Jangan cuma mengaitkannya dengan desa penari saja, Rowo Bayu menyimpan spot-spot wisata yang gak kalah menarik, salah satunya adalah keberadaan telaga di tengah rimbunnya hutan. 

Telaga ini apabila akhir pekan selalu ramai dikunjungi. Ada yang sekadar untuk menyejukkan pikiran setelah seminggu bekerja, atau ada juga yang memanfaatkan untuk foto pre-wedding. 

Pohon-pohon yang mengelilinginya membuat suasana menjadi sejuk. Buat piknik bersama keluarga juga asik kok

Bahkan perayaan hari jadi Ulang Tahun Banyuwangi selalu dipusatkan di sini, dengan tema Festival Rowo Bayu. 

2. Dijadikan wisata sejarah Kerajaan Blambangan 

Desa Penari
Wisata Sejarah Kerajaan (Instagram).

Di dalam desa ini terdapat sebuah petilasan, atau tempat bertapa Prabu Tawang Alun yang merupakan seorang raja dari Kerajaan Blambangan yang merupakn kerajaan paling timur di Jawa. 

Saat itu Prabu Tawang telah melewati perang saudara dengan adiknya sendiri. Sang adik pun akhirnya terbunuh olehnya. Dan peristiwa itu membuatnya harus menyingkir dari kerajaan untuk menyendiri atau bertapa. 

Dia mendapatkan wangsit untuk pergi ke Timur dan bertemu dengan sosok macan putih yang diyakininya sebagai jelmaan gurunya. Oleh macan putih itu ia diperintahkan untuk membagun sebuah istana yang kemudian diberi nama Istana Macan Putih. 

Lokasi istana atau petilasan ini kemudian hingga saat ini masih menjadi daya tarik wisata religi oleh warga-warga sekitar Banyuwangi. 

3. Terdapat banyak sumber mata air

Desa Penari
Sumber mata air (Instagram).

Karena letaknya yang di tengah hutan dan di ketinggian 800 Mdpl, banyak sumber-sumber mata air di sini. Seperti dikutip dari detikcom, ada Sumber Taman Keputran, Sumber Taman Dewi Gangga, Sumber Kamulyaan, dan Sumber Panguripan. 

Air yang keluar dari sumber-sumber mata air itu diakui sakral dan memiliki khasiat yang baik untuk kecantikan. Gak sedikit juga air-air tersebut dimanfaatkan oleh pejabat-pejabat untuk mendapatkan keberuntungan. 

4. Lokasi perang puputan 

Desa Penari
Lokasi Perang Puputan (Instagram).

Di daerah ini dulunya juga terjadi perang habis-habisan antara Kerajaan Blambangan dengan VOC. Penyebabnya adalah karena warga geram dengan perlakuan penjajah Belanda yang suka semena-mena, bahkan merampas harta warga. 

Kegeraman ini memunculkan perang besar-besaran pada tanggal 18 Desember yang kemudian menjadi hari lahirnya Banyuwangi. Dalam peperangan ini, setidaknya 60.000 warga Blambangan gugur. 

Akses menuju ke Rowo Bayu 

Desa wisata yang satu ini bisa ditempuh sejauh 35 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi. Lebih mudah kalau kamu menyewa mobil sekitar Rp 300-500 ribu untuk 24 jam, tergantung dari jenis mobil yang disewa. 

Setelah mendapatkan mobil, kamu tinggal berkendara melewati Jalan Nasional III ke arah Songgon. Nanti bakal ketemu persimpangan dan berbelok ke Jalan Raya Songgon, terus tinggal lurus terus sampai ketemu Jalan Tanah Lost. Sudah deh nanti kamu bakal ketemu dengan plang Wana Wisata Rowo Bayu. 

Itulah sedikit potensi wisata dan juga cerita sejarah tentang Rowo Bayu. Jauh sebelum cerita tentang KKN Desa Penari jadi tren, Rowo Bayu sudah lebih dulu terkenal dengan keindahan wisatanya. (Editor: Winda Destiana Putri).

Continue Reading

Uncategorized

Glamorous Camping Dikembangkan di Danau Toba Seiring Pembangunan Infrastruktur Pariwisata

Published

on

Glamorous Camping atau Glamping segera dikembangkan di destinasi wisata Danau Toba, Sumatera Utara (Sumut). Hal itu seiring percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata di wilayah itu.

Dalam pertemuan antara Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dengan Menteri Koordinator (Kemenko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di The Kaldera Toba Samosir, Menpar Arief menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan pembenahan infrastruktur serta penyediaan utilitas dasar di kawasan ini. 

“Kita pastikan peluncuran Groundbreaking Glamorous Camping atau Glamping akan dilaksanakan pada 10 Oktober 2019,” ujar Menpar Arief Yahya.

Komitmen serupa juga disampaikan oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. “Wilayah ini punya potensi wisata yang besar, sehingga nantinya kita bisa buka lapangan kerja sebanyak mungkin,” jelas Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.

Masyarakat di Kawasan Danau Toba Makin Antusias

Wisata Danau Toba
Menpar Arief Yahya dalam kunjungannya ke Danau Toba (Dok: Kemenpar)

Antusiasme juga terlihat dari respon aktif masyarakat di kawasan Danau Toba terkait program pemerintah memajukan wisata daerah ini. Misalnya saja saat Menpar Arief Yahya berkunjung ke Desa Lumban Bulbul Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara.

Masyarakat mulai menyadari pentingnya amenitas yang baik. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya jumlah homestay yang tersedia. Tercatat ada sekitar 17 homestay dan 70 kamar di desa dengan Pantai Pasir Putih yang memesona ini. 

Namun Menpar Arief Yahya kembali mengingatkan bahwa tidak cukup hanya mengandalkan amenitas berkualitas semata. Masyarakat juga harus menonjolkan diferensiasi budaya sehingga menarik minat para wisatawan.

“Alam di sini sangat bagus, paduan gunung dengan danau yang indah. Untuk Desa Bulbul saya sarankan jadi pusat kuliner khas seperti di Jimbaran Bali. Kemenpar akan membantu cara pengemasan kulinernya,” ujar Menpar Arief Yahya.

Hal serupa juga disampaikan Menpar Arief Yahya kepada warga Desa Wisata Jangga Dolok, Toba Samosir. Selain meninjau revitalisasi rumah adat Batak dengan arsitektur nusantara yang unik, Menpar Arief Yahya juga berpesan agar masyarakat turut serta membangun rencana memajukan wisata desa.

Menpar Arief Yahya menyampaikan komitmennya kepada masyarakat Desa Jangga Dolok. “Pembuatan master plan untuk desa ini akan dibantu oleh BOP Danau Toba. Hal ini akan dilakukan secara paralel dengan revitalisasi desa adat,” ujar Menpar Arief Yahya.

Pemerintah Bangun Fasilitas Tambahan

Wisata Danau Toba
Bandara Sibisa (Dok: Kemenpar).

Sementara itu, dari segi aksesibilitas, pemerintah mulai melirik pembangunan fasilitas tambahan seperti terminal dan penambahan panjang runway Bandara Udara Sibisa yang berada sekitar 4 kilometer dari The Kaldera. 

Pada kunjungan ini, Menpar Arief Yahya juga menyampaikan kabar baik terkait upaya pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai salah satu UNESCO Global Geopark (UGG). 

“Danau Toba kini (secara de facto) sudah masuk sebagai UNESCO Global Geopark (UGG). Perjuangan yang tidak mudah karena pernah dua kali gagal. Pencapaian ini menegaskan kalau Danau Toba punya atraksi kelas dunia,” ujar Menpar Arief Yahya.

Lembah Eksotis, The Caldera

Wisata Danau Toba
Lembah eksotis, The Caldera (Dok: Kemenpar)

Ada yang baru dari pariwisata Danau Toba, yakni lembah eksotis The Caldera Toba Nomadic Escape yang telah diresmikan pada April lalu. Menurut Ketua Tim Percepatan Nomadic Kementerian Pariwisata, Waizly Darwin, The Caldera merupakan amenitas wisata kembara atau nomadic tourism yang dikembangkan oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba atau BPODT. 

“The Caldera Toba Nomadic Escape ini terletak di Zona Otorita Pariwisata Danau Toba, Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir,” kata Waizly Darwin, dalam keterangan tertulis yang diterima. 

Disini, kamu akan terpesona dengan pemandangan eksotis Desa Wisata Sigapiton yang berada di lembah bawah The Caldera. Ditambah lagi, keindahan alam dari titik yang diapit bukit di sebelah kanan dan kiri, serta pemandangan Danau Toba dan Pulau Samosir di kejauhan.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan pelbagai fasilitas menarik seperti, Kaldera Amphitheatre berkapasitas 250 orang, Kaldera Plaza, Kaldera Stage, dan Kaldera Hill. Ada pula amenitas berupa 15 Tenda Belt, 2 Cabin, 2 Tenda Bubble, 1 Ecopod, dan area parkir untuk Camper Van.

Kiranya, kawasan ini dapat menampung 50 wisatawan yang tertarik menginap di fasilitas glamping yang telah tersedia. Segmen utama dari objek wisata ini memang wisatawan milenial dan para nomad. Seiring berkembangnya zaman, era milenial saat ini dianggap potensial untuk menyampaikan informasi terutama pariwisata. 

Untuk sampai di The Caldera, kamu perlu menempuh perjalanan selama sekitar 20 menit dengan kendaraan bermotor dari Kota Parapat. Jika melalui Bandara Silangit, kamu akan menempuh perjalanan selama 2 jam. Adapun dari Bandara Sibisa yang saat ini sedang dalam pengerjaan, hanya sekitar 10 menit berkendara. (Editor: Winda Destiana Putri).

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 http://vanspluntren.net. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.